Senin, 16 Juli 2012

Cari Untung (Drama Satu Babak)

Oleh Armilia Sari

Drama satu babak ini terdapat dalam buku Antologi Karya Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah Universitas Sriwijaya Angkatan 2008



Pengenalan tokoh:
1. Liya: Seorang wanita yang lugu dan bodoh sehingga mudah ditipu dan dimanfaatkan oleh orang lain.
2. Tika: Teman Liya yang suka mencari keuntungan tanpa perlu bersusah payah bekerja.
3. Ayu: Tetangga Tika yang centil dan suka berdandan. Ia juga suka memanfaatkan orang lain.
4. Tuti: Seorang penjual lumpia tetapi tidak pandai membuatnya sehingga lumpianya tidak enak.

            Di suatu pagi yang cerah Liya berkunjung ke rumah Tika. Ia ingin memesan lumpia untuk acara syukuran di rumahnya nanti malam.

Liya: Assalamu’alaikum, mbak…
Tika: (gagap) Eh tembak, eh tembak
Liya: Bukan tembak, saya manggil mbak.
Tika: Ada apa elo pagi-pagi ke sini?
Liya: Maaf mbak, saya mau minta tolong dibuatkan lumpia untuk acara syukuran nanti malam. Kira-kira bisa nggak mbak?
Tika: Memangnya elo mau pesan berapa?
Liya: Kalau Liya pesan seratus biji, nanti malam selesai nggak mbak?
Tika: Beres, yang penting bayarannya juga lumayan. Elo berani bayar gue berapa?
Liya: Anu, ini, saya cuma sanggup bayar Rp.40.000
Tika: Yang benar kamu Liya. Uang segitu mah kurang, buat beli bahannya saja nggak cukup.
Liya: Iya deh, mbak. Ini Liya tambahin lagi uangnya, tapi maaf Liya cuma bisa nambahin Rp.10.000 saja, maklum lagi nggak ada duit.
Tika: Memangnya kapan elo punya duit? Ya sudahlah, nggak apa-apa. Sini uangnya (Menarik paksa uang dari tangan Liya)
Liya: Maaf mbak, saya cuma mau pesan. Kalau buat lumpia jangan kayak lumpia buatan Tuti ya?
Tika: Loh, memang kenapa lumpianya Si Tuti?
Liya: Anu, lumpianya nggak enak, terlalu keras.
Tika: Oh, okelah kalau begitu.

Liya lalu pulang ke rumahnya. Sepulangnya Liya dari rumah Tika, Ayu yang merupakan tetangga sebelah Tika keluar dan duduk di teras sambil membawa make up.

Tika: lagi ngapain elo, Yu?
Ayu: Idih, masih muda matanya udah rabun. Memang elo nggak bisa lihat gue lagi ngaca?
Tika: Wu… dasar centil, bisanya cuma dandan doang.
Ayu: Enak saja bilang gue cuma bisa dandan. Eh masih banyak tau yang gue bisa. Gue bisa makan, bisa tidur, bisa belanja, bisa pacaran, ah….enaknya hidup kayak gue.
Tika: Eh ngomong-ngomong elo bisa bikin lumpia nggak? Gue mau pesan seratus biji nih kalau elo bisa.
Ayu: Banyak amat, memang buat apaan?
Tika: Nggak perlu tahu buat apaan, yang penting elo bisa nggak? Gue bayar Rp.40.000 nih.
Ayu: Tenang saja, mana duitnya.

Tika lalu masuk ke rumahnya, sementara Ayu masih berdandan di teras. Tidak lama kemudian Tuti lewat sambil membawa jualannya.

Tuti: Lumpi! Lumpia! Elu makan sapi ya… Eh aku ngomong apaan sih?
Ayu: Hei! Hei! Tuti Maria Netty Tiada Henti Dinanti-nanti! Ke sini!
Tuti: Maaf mbak, nama saya nggak sepanjang itu. Nama saya Tuti Rukminah
Ayu: Yah, terserah elo dah. Gue mau pesan lumpia elo, berapa satu bijinya?
Tuti: Murah mbak, cuma Rp.350
Ayu: Yah… segitu dibilang murah. Kemahalan itu, Rp.300 saja ya? Gue pesan seratus biji nih, jadi Rp.30.000, mau nggak?
Tuti: Iya deh mbak, kapan mau diambilnya? Kebetulan di rumah masih banyak yang nggak laku. Kalau cuma seratus biji sih ada.
Ayu: Nanti siang antarin ke sini ya. Nih uangnya, kembaliannya ambil saja.
Tuti: Boro-boro kembalian, ini saja minta diskon, dasar kere’ (menggerutu sambil berlalu)
Ayu: Biarin dah, walaupun kere’ kayak gini kan yang penting gue tetap cuantik… tik…tik... Ya nggak? Ya nggak? Ting…(bertanya pada cermin sambil mengedipkan mata)

Tidak lama kemudian Liya datang lagi ke rumah Tika.

Tika: Loh, kok datang lagi? Kan tadi katanya sore baru mau diambil?
Liya: Maaf mbak, Liya cuma mau ngecek apa lumpianya sudah dikerjain atau belum, tapi kok mbaknya nyantai saja.
Tika: Eh iya maaf, tiba-tiba pinggang gue encok nih, jadi lumpianya gue pesanin sama Ayu. Enak juga kok lumpia buatan Ayu.
Liya: Iya deh mbak, yang penting bukan buatan Tuti.

            Liya dan Tika lalu mengunjungi rumah Ayu untuk mengecek lumpianya sudah mulai dibuat atau belum.

Tika: Ya ampun! Ayu, elo kok belum selesai juga dandannya, jadi kapan mau mulai bikin lumpianya? Nanti sore mau diambil nih.
Ayu: Eh, lumpianya… lumpianya… anu, pinggangku lagi encok nih jadi nggak bisa buat lumpianya.
Tika: Loh kok pakai alasan punya gue sih? Jangan niru alasan gue dong.
Ayu: Oh… Ya sudah, kalau begitu alasan gue… apa ya? Oh ya! Maaf ya, aku lagi sibuk dandan nih, soalnya nanti malam kan cowok gue yang gantengnya kayak Leonardo Dicaprio mau ngapel.
Tika: Lah, trus lumpianya gimana? Kasian kan Liya, kalau gue lagi nggak encok sudah dari tadi gue bikin.
Ayu: Tenang saja, tadi gue sudah pesan seratus biji lumpia sama Si Tuti Maria Netty Tiada Henti Dinanti-nanti.
Liya: Apa? Tuti? Tuti Rukminah yang jual lumpia nggak laku-laku itu?
Ayu: Iya, yang itulah. Nah itu dia datang. Hei Tuti! Sini!
Tuti: Iya mbak, ini pesanannya Tuti bawakan. Makasih ya mbak, seumur hidup baru kali ini dapat rejeki banyak sampai Rp.30.000
Liya: Loh, bukannya saya ngasih uangnya Rp.50.000?
Tuti: Saya cuma dikasih mbak Ayu Rp.30.000
Ayu: Eh, sa… saya juga cuma dikasih Tika Rp.40.000.
Liya: Kalau begitu mbak Tika dan mbak Ayu ini masing-masing dapat untung Rp.10.000 ya?
Tika: Eh, eh, sudah siang. Gue mau sholat dzuhur dulu ya, dah…
Ayu: Gue juga deh, kan kalau nggak sholat Tuhan marah, gue masuk ya…

            Liya hanya bisa bengong dan menatap kosong ke depan dengan sekeranjang lumpia buatan Tuti.

Selesai
*****

0 Komentar:

Posting Komentar

Please be polite in giving a comment, every rude comment will be removed (Sopanlah dalam berkomentar, setiap komentar yang kasar akan dihapus)

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda